20 November 2011

Hikmah Belajar PHP


Contoh kode PHP

Pertama kali mendengar kata PHP, aku gak tau benda apa itu. Katanya bahasa pemrograman untuk web. Maklum saat itu aku masih semester 2 kuliah Informatika. Beruntungnya aku udah tau dengan HTML, JavaScript dan CSS sebelum aku masuk kuliah. Hanya saja beberapa semester di awal kuliahku, ilmu itu gak dipake.
Yang aku tau bahasa pemrograman di web itu hanya HTML, JavaScript dan CSS. Jadi aku juga penasaran dengan yang namanya PHP. Seperti apakah modelnya, apa bedanya dengan bahasa yang udah aku pelajari?
Dari sana aku mulai membaca-baca tentang PHP. Banyak istilah baru yang aku temukan saat itu, seperti server, localhost, apache, mysql dan sebagainya. Tapi tak ada satupun yang aku pahami. Akhirnya setelah beberapa minggu mengeksplore, aku nyerah. Aku tinggalkan PHP.
Di semester 3, aku mulai berpikir tentang beberapa website yang telah aku buat sebelumnya menggunakan HTML, JavaScript, dan CSS. Aku merasa kerepotan mengupdate websiteku. Aku mulai berpikir "adakah cara untuk membuat isi dari website ini lebih dinamis, bisa berubah2 tanpa harus mengubah kode di dalamnya?"
Pooof.... ternyata itu guna PHP, aku baru tau. Aku juga baru tau bahwa PHP adalah bahasa pemrograman di web, sedangkan HTML hanya bahasa Mark Up.
Mulai lah aku mencari tutorial "How to Get Started" tentang PHP. Dan akhirnya jadilah program perdana, Hello World.
Selang satu bulan berikutnya jadilah sebuah website PHP pertamaku.
Semester 4 pun datang, kebetulan aku mengambil mata kuliah Teknologi Web. Pada awal pertemuan, sang dosen memberi sebuah 'challenges' untuk maka kuliah tersebut. Challenge-nya adalah membuat sebuah website menggunakan HTML, JavaScript dan CSS. Ahaaaa... Kebetulan nih. Aku sudah punya website yang udah jadi, pake PHP, mySQL. Jelas saja aku tak terlalu serius dengan mata kuliah tersebut, sebab klo ada yang bisa membuat website menggunakan HTML, maka akan dijamin dapat A, apalagi websiteku itu pake PHP.
Ternyata ada juga hikmahnya belajar PHP saat itu, hmmm....

19 November 2011

Ini tentang kebaikan 6 : Kebohongan


Bismillaahirrahmaanirrahiim...
Ini tentang kebaikan, kebohongan terhadap kebaikan.
Saya teringat sebuah catatan seseorang mahasiswi tentang dunia percontekkan. Dari pengalamannya sendiri mencoba menganalisa beberapa fenomena dan mengekstraknya menjadi sebuah kesimpulan bahwa mencontek merupakan kebohongan terhadap diri sendiri.
Seorang mahasiswa yang memiliki nilai A pada mata kuliah Database seharusnya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik tentang konsep database - kita asumsikan dosen yang mengajarkan memiliki kemampuan yang sangat baik dalam memberikan materi dan pemahaman - dari pada mahasiswa lain yang memiliki nilai C atau bahkan D, benarkan?
Tapi apa yang terjadi jika ternyata nilai A itu didapat dari hasil mencontek? Tentu pengetahuan dan pemahamannya tentang Database tidak sebaik yang seharusnya. Bisa jadi pemahamannya sama dengan mahasiswa yang memiliki nilai C atau bahkan D. Bisa dibilang ia hanyalah mahasiswa dengan nilai A yang memiliki pemahaman C. Inilah sebuah kebohongan yang mungkin dimaksud dalam catatan mahasiswi tersebut.
Yang diuntungkan adalah si mahasiswa yang mencontek dan mendapatkan nilai A. Lalu jika si mahasiswa berkata, "suka-suka saya dunk, kan yang nyontek saya, ngapain pulak ente yang sibuk?". Maka saya harus meyakinkan anda bahwa hal ini tidak hanya berakibat kepada si mahasiswa saja, tetapi juga berakibat kepada banyak pihak.
Sebagai contoh, jika suatu saat ia dipercaya mengerjakan perancangan database untuk suatu proyek "Sistem Informasi Kependudukan", maka anda akan dapat membayangkan betapa buruk hasil perancangan databasenya. Dan itu akan sangat berpengaruh kepada keseluruhan tim dalam database. Untuk mencari posisi yang aman, maka saat diberikan kepercayaan tadi, ia dengan cepat akan menolaknya dengan berbagai alasan, yang penting ia tidak terlibat tanggung jawab tersebut, ya karena memang ia tidak bisa. Ia membohongi semua orang di tim proyek tersebut dengan memperlihatkan nilai A pada mata kuliah Databasenya. Lalu, apakah anda masih berpikir ini hanya berakibat kepada si mahasiswa yang mencontek dan mendapatkan nilai A tersebut?
Contoh lain, jika ternyata temannya yang sama-sama 'berpemahaman C' mengetahui bahwa temannya itu bisa mendapatkan nilai A hanya dengan mencontek, mengapa tidak? Dus, jadilah sekelompok orang yang 'berpemahaman C' yang secara beruntung mendapatkan nilai A. Dan sekarang sudah ada 3 atau 4 orang yang seperti itu. Besok mungkin sudah ada 8 atau 10 orang. Besoknya lagi jadi 10, 20 dan terakhir jadi hampir satu kelas, sehingga tersisa mahasiswa yang benar-benar belajar. Nah, masihkan anda bisa mengatakan "kan yang nyontek saya"? Ayolah kawan, anda terlalu mengada-ngada.
Jika di antara mereka yang tersisa ada mahasiswa yang sudah mati-matian belajar namun hanya mendapatkan nilai B, maka bisa dipastikan kemungkinan besar ia tentu akan tertarik mendaftar ke dunia percontekkan, toh hanya dengan mencontek ia bisa mendapatkan nilai yang lebih bagus, yaitu A. Nah, sekarang yang tersisa hanya mahasiswa yang benar-benar mendapatkan nilai A. Coba pikir, apakah mereka tidak tertarik dengan godaan 'nyontek'? Sudahlah, lama-lama mereka juga akan berpikir "buat apa mati-matian belajar klo toh dengan menyontek bisa mendapatkan nilai A juga?". Alhasil siapa lagi yang bertahan? Nah, sudahkah anda memahami bahwa pengaruh buruk itu bukan hanya kepada anda saja, tetapi ke banyak orang yang ada disekitar anda.

Ini bukan kuliah, ini kehidupan nyata!
Ini tidak hanya berbicara tentang dunia kuliah, lebih dari itu, contoh di atas hanyalah sebuah ilustrasi sederhana yang saya harapkan dapat kita pahami.
Tidak berbeda jauh dengan apa yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai manusia tentu kita memiliki 'Buku Panduan' yang selalu saya katakan pada beberapa artikel sebelum ini.
Sejatinya 'Buku Paduan' itu merupakan peta bagi kita untuk mencari jalan kehidupan yang tepat dan baik. Disana ditunjukkan mana saja jalan yang boleh dilalui, mana saya yang tidak boleh dilalui. Disana juga diberikan strategi dan tips jitu untuk memecahkan masalah yang terjadi saat dalam perjalanan.
Seseorang diharuskan untuk mempelajari 'Buku Panduan' tersebut agar tidak tersesat saat menjalani kehidupan. Sehingga seseorang  yang mampu mempelajari dan memahami 'Buku Panduan' dengan baik, dan menerapkannya dengan baik pula, seharusnya akan mendapatkan hasil yang baik pula di dalam kehidupannya.
Tapi apa yang akan terjadi jika seseorang 'mencontek' orang lain? Jika ada si M sedang bersedekah kepada kaum miskin, maka si N juga akan bersedekah kepada kaum miskin, maka di mata manusia si M dan si N akan sama dipandang sebagai orang yang telah berbuat kebaikan atau bisa dibilang mendapat nilai A(bagus) dalam kehidupan. Apakah si N memiliki pemahaman tentang bersedekah yang sama dengan pengalaman bersedekah si M? Belum tentu.
Contoh lainnya dalam beribadah, si M  belajar dengan seorang guru ahli ibadah. Tidak ada jaminan bahwa ibadah si M akan sama atau lebih baik dari ibadah gurunya.
Saya teringat khutbah jum'at beberapa minggu yang lalu, sang khatib mengatakan bahwa, bagaimanapun seorang Abu Sangkan memberikan pelatihan shalat khusuk, tetap saja tidak menjamin bahwa orang yang ikut pelatihan itu akan mendapatkan shalat yang khusuk. Belum ada satu metode pun yang bisa mentransfer ilmu seseorang kepada orang lain secara lengkap dan sama persis. Karena, bagaimanapun kita belajar dari orang lain, tetap saja pengalaman pribadinya tersebut yang menentukan seberapa mengerti ia dengan ilmu yang didapatkannya dari orang lain. Seberapa pun sering seseorang ikut pelatihan shalat khusus kepada Abu Sangkan, tetap saja pengalaman spiritualnya yang menentukan seberapa mengerti ia dengan pelatihan tersebut. Dan pengalaman itu sulit untuk bisa dibagi kepada orang lain sehingga orang tersebut memahami betul pengalaman tersebut.
Untuk itu dalam mempelajari sebuah ilmu, seseorang perlu memahami konsep ilmu tersebut dan mempraktekkannya dalam kehidupannya. Hal ini dilakukan dalam rangka menciptakan pengalamannya sendiri sehingga ilmu itu menjadi lengkap terserap olehnya.
Kenyataan yang sering terjadi dilingkungan kita adalah gaya 'mencontek' tadi. Orang lain beribadah, maka ia ikut-ikutan beribadah. Orang membaca 'Amin', dia juga tidak mau ketinggalan menbaca 'Amin'. Orang bilang 'Insya Allah', dia juga bilang 'Insya Allah'. Orang mengenakan baju gamis, dia ikutan mengenakan baju gamis.
Inilah yang saya maksudkan dengan 'mencontek' di dalam kehidupan untuk mendapatkan nilai 'A' dimata orang lain.
Tidaklah salah jika seseorang ingin mengikuti cara orang lain, namun setiap individu perlu melakukan evaluasi, pemahaman, dan mengerti maksud dan tujuan seseorang melakukan sesuatu. Sehingga dalam mendapatkan ilmu, kita dapat terhindar dari ilmu yang tidak memiliki landasan yang kuat.
Maka tidak diragukan lagi kita dituntut untuk berpikir agar dapat menilai suatu ilmu itu benar atau salah. Kita harus menganalisa apakah hal yang disampaikan oleh orang lain adalah hal yang benar dan bermanfaat, bukan hal yang salah atau merusak. 

Yuk, berbuat kebaikan


Yuk brbuat kebaikan! Tak susah koq, cm butuh keinginan + kekuatan, dtambah sdikit keterampilan n ilmu pengetahuan, trus lakuin dgn penuh ksabaran n keikhlasan.

Hmm... Gmana? Bs? Ya, paling tidak qt bs brbuat kbaikan utk org lain.

Hah!? Tak bs? Masa sih? Skedar bantuin org lain masa ga bs? Nolongin dikiit aja. Klo tak bs nolongin org yg tak dkenal, yawdah, tolongin ja org2 yg kamu kenal ja, kyak temen, temennya temen, atw tetangga. Gampang kan?

Apa? Ga sempat? Yawdah, yg dkat2 ja, misalnya abang, kakak, adik, sepupu, kan byak tuh, pokoke orang. Terserah deh mau sapa.

Hah, apa pulak lg!? Tak bs nolong orang do? Tolong makhluk hidup lain lah, hewan, tumbuhan, kash makan, siram. Pokoknya yg baik2.

Waa..!!! masih blum bs? Yawdah, berbuat baik lah pada diri sendiri. Mungkin itu lg cara yg paling simpel. Ingat ya, BERBUAT BAIK.

Gdubrak...!!! Hah!? Owalaaah... bener-bener ya. Masih blum bs jg brbuat baik!!? Sekalipun kpada diri sendiri!?

Baiklah, aq ga meminta kamu berbuat kebaikan. Paling tidak, kamu BERHENTI BERBUAT KEJAHATAN rasanya itu sudah lebih dari cukup. 

Pake OOP


C Programming Languange

Teringat suatu ketika seorang adik tingkat bertanya tentang pemrograman, "Bang, Abang buat aplikasi web pake apa?"
Karena saat itu aku baru paham OOP, aku jawab, "pake PHP, tapi dengan OOP".
Adik tingkatku itu heran, "Lho apa OOP tu Bang?"
"Object Oriented Programming, atau Pemrograman Berbasis Object. Itu tuh, yang mata kuliah PBO", aku melihat keningnya mengkerut mendengar jawaban tadi.
Aku sadar klo pemrograman gaya ini memang gak mudah. Bahkan sewaktu aku kuliah, matakuliah yang sempat membingungkan tuh yang ini, OOP.
Jika memahami istilah seperti polymorphism, inheritance, atau encapsulation mungkin gk terlalu sulit. Dari awal aku udah tau 'benda' apa itu. Tapi tetap aja saat implementasinya masih tidak bisa.
Kawan, percaya atau tidak, aku sendiri baru bisa membuat program menggunakan OOP pada semester akhir, yaitu program untuk Tugas Akhirku sendiri. Setelah itu aku telah meninggalkan pemrograman klasik yang aku sadari sangat 'menjenuhkan' untuk mengeditnya kembali.
Ternyata jerih payah untuk belajar OOP tidak sia-sia, hampir sebagian besar program aku kerjakan hanya hitungan hari. Berbeda dengan cara pemrogramanku dulu yang rata-rata kelar antara 1 sampai 2 bulan. Bayangkan, berapa banyak waktu yang bisa dihemat? Selain itu, aku tidak merasa kerepotan jika harus mengedit programku kembali.
Kepada adik tingkat ku itu aku ceritakan pengalamanku dengan harapan ia menjadi tertarik dengan ceritaku. Aku juga ingin dia merasakan bagaimana mudahnya membuat program menggunakan OOP. Aku ingin dia bisa tau seberapa cepat jika memprogram dengan OOP. Bahkan aku pernah mengerjakan program Flash (saat itu masih Flash 8) berbasis database pada MySQL melalui PHP hanya dalam waktu 4 hari. Jangan heran denganku, justru aku yang heran dengan model OOP ini.
Namun, memang gak semudah itu meyakinkan orang lain. Mungkin itu jugalah hal yang aku rasakan saat dosen OOP menjelaskan betapa menguntungkan menggunakan OOP saat merancang program kepadaku. Adik tingkatku itu pesimis dengan kemampuannya sendiri, padahal OOP tidak sesulit yang ia bayangkan. Pada akhirnya mentallah yang menang. 

Kuliah hikmah (bagian 2)


"Inti dari Audio database adalah bagaimana mengekstrak data audio sehingga dapat dikenali sebagai sebuah teks yang selanjutnya akan disimpan ke dalam bentuk tabel dalam database. Apabila data audio telah menjadi data teks, maka kita dapat dengan mudah melakukan query ke database", begitu ucapan beliau saat menyampaikan kesimpulan materi pertama yang dibahasnya pada hari itu.
"Nah, yang menjadi permasalahannya adalah bagaimana proses konversi data audio menjadi data teks.", beliau melanjutkan materinya dengan permasalahan baru yang menurut aku pasti berhubungan dengan rumus atau metode-metode yang tak jelas itu, mungkin.
Kampus ITB
Beliau mulai menjelaskan bahwa ada teknologi yang bisa digunakan untuk menjawab permasalahan tersebut, antara lain adalah speech recognition dan speaker recognition. Speech Recognition adalah teknologi untuk mengenal apa yang diucapkan pada suatu rekaman suara. Sedangkan Speaker Recognition adalah teknologi untuk mengenal siapa yang mengucapkan kata tersebut pada suatu rekaman data. Lalu bagaimana cara kerjanya?
Beliau mengatakan bahwa, sesungguhnya otak manusia belajar dari contoh dan mempraktekkan. Misalkan seorang anak yang mulai belajar mengucapkan huruf A, ia harus mendengar terlebih dahulu seperti apa bunyi huruf A, lalu otaknya akan menangkap pola bunyi tersebut dan mulai memerintahkan mulut untuk mengeluarkan bunyi yang serupa. Jika mulut tidak mengeluarkan bunyi yang serupa, maka otak akan menangkap adanya ketidakcocokan antara bunyi yang didengarnya pertama kali dengan bunyi yang ia keluarkan dari mulutnya. Lalu otak akan mengkonfigurasi ulang dan mengulang memerintahkan mulut  untuk mengucapkannya dengan 'konfigurasi' yang baru. Apabila bunyi yang didengarnya terasa cocok dengan apa yang didengarnya pertama kali, maka otak akan menyimpan 'setingan' bunyi tersebut untuk digunakan lagi.
Itulah mengapa orang yang tuli sejak lahir juga tidak dapat berbicara. Karena telinganya tidak pernah mendengar bagaimana sebenarnya bunyi huruf A, sehingga ia tidak bisa mengucapkannya.
Ini juga lah yang menjadi alasan bahwa sesungguhnya setiap huruf itu memiliki getaran dan frekuensi tersendiri, sehingga seseorang dapat mengenali apa yang diucapkan oleh orang lain.
Dengan prinsip itulah kita dapat membandingkan masing-masing frekuensi huruf terhadap apa yang kita ucapkan, dengan begitu kita dapat mengubah data audio menjadi teks.
Memang sejatinya tidak sesederhana itu, karena dalam mengucapkan sebuah kata, kita tidak mengucapkannya per satu huruf, tetapi kita mengucapkannya per satu suku kata, jadi frekuensi untuk suku kata 'ba' dengan 'ca' tentu tidak sama. Jadi kita tidak hanya menyimpan frekuensi untuk satu huruf saja, tetapi juga untuk satu suku kata. Klo dihitung-hitung, banyak kombinasi huruf yang bisa dijadikan suku kata menjadi sekitar 676 pola suku kata. Jika masing-masing pola suku kata tersebut memiliki ukuran file sekitar 500 Kb, maka diperlukan sekitar 338 MB untuk menyimpan data tersebut di komputer. Bayangkan saja berapa lama waktu yang diperlukan untuk menganalisa sebuah kalimat yang terdiri dari 10 suku kata, jika dalam satu detik processor mampu membandingkan 20 pola suku kata, maka perlu 338 detik atau 5 menit 38 detik untuk mengubahnya menjadi data teks. Bagaimana jika dialog yang dianalisa berdurasi 100 jam? Haha...inilah bagian yang paling malas untuk aku pikirkan.
Belum lagi untuk melakukan proses pengenalan siapa orang yang mengucapkan kata tersebut. Untuk mengetahui prinsipnya, beliau menganalogikan seperti saat menerima telepon dari seseorang. Tanpa memperhatikan layar ponsel kita hampir dapat mengenali siapa yang sedang menelepon. Ini dikarenakan adanya perbedaan 'warna' suara untuk masing-masing orang. Di dalam frekuensi suara terdapat bermacam-macam frekuensi yang disebut dengan f1,f2,f3,f4,f5 dan seterusnya. Beliau menyebutkan pola pada frekuensi-frekuensi inilah yang akan menentukan warna suara seseorang, terutama pada f2,f3,f4 dan seterusnya. Jika komputer telah menyimpan 100 pola warna dari 100 orang yang berbeda, maka untuk mengetahui siapa saja yang berbicara pada sebuah rekaman akan memerlukan waktu 100 kali lipat lebih lama dari waktu yang diperlukan sebelumnya.
"Tetapi,...", beliau berhenti sejenak.
"Semua proses perhitungan dan analisa itu akan akurat jika data rekaman yang dianalisa tidak terganggu dengan suara-suara lainnya atau noise. Apabila suara rekaman tersebut terganggu dan bercampur dengan suara lainnya, atau terdapat 2 atau lebih orang yang berbicara secara bersamaan, maka proses analisa belum tentu akurat, karena disana akan terjadi tabrakan frekuensi (interferensi gelombang suara) yang menyebabkan frekuensi tersebut tidak dapat dikenali atau dicocokkan".
Lalu beliau melanjutkan, "Berbeda dengan otak manusia, kita dengan mudahnya mengetahui lirik sebuah lagu yang sedang dimainkan, kita juga dapat mengetahui alat musik apa saja yang ada dimusik tersebut walaupun semua suara telah tercampur aduk menjadi satu. Itulah mengapa otak manusia jauh lebih hebat dibandingkan dengan komputer manapun. Belum ada satu teknologi yang dapat menandingi kehebatan otak manusia", ungkap beliau.
Mendengar itu aku langsung terhenyak. Beberapa saat pandanganku masih tak bergerak melihat beliau, kata-kata beliau masih bergema di atas kepalaku, seolah-olah kalimat itu berputar-putar mengelilingi kepalaku.
Benar yang beliau katakan itu, sudah berapa lama manusia sibuk menggali ilmu pengetahuan dan teknologi, sampai saat inipun belum ada yang bisa mengalahkan fungsi otak manusia dalam mengenal suara. Padahal otak manusia paling bodoh pun dapat mengenali suara, dan itu seperti tidak membutuhkan energi untuk melakukannya.
Coba anda bayangkan jika otak manusia diganti dengan otak komputer, tentu anda akan membutuhkan waktu sekitar 5 menit untuk mengetahui orang lain mengucapkan "Assalammmu'alaikum" kepada anda. Haha...
  

Kuliah hikmah (bagian 1)


Aku gak yakin kuliah kali ini bisa aku ikuti, pagi ini kepalaku emang pusing, rasanya seperti ada gempa. Tapi aku kuatkan niat untuk datang ke kampus. Hari ini kuliah Database Multimedia oleh pak Arry Arman. Topik yang akan dibahas adalah Audio Database.
Kampus ITB
Seperti biasa, jika pak Arman yang mengajar, sepertinya sesuatu yang sulit dicerna akan lancar masuk ke otak ini. Tapi kali ini beda, kepalaku pusing dari tadi malam, begadang, namanya juga kuliah (alesan). Pada materi sebelumnya yaitu Document Database, penjelasan yang beliau berikan memang langsung dapat dipahami. Beliau menjelaskan dengan gaya bahasa yang 'merakyat', beliau hampir tidak pernah menggunakan istilah2 tenologi yang keren. Mungkin memang begitu karakter mengajar pak Arman yang paling saya salut, jempol deh pak, hehe....
Kali ini aku ingin bertaruh, apakah aku bisa mengikuti kuliah beliau. Dengan kondisi kepala yang gak 'support' buat konsentrasi penuh, ditambah mata ngantuk akibat begadang, rasanya akan sulit untuk menerima materi dari beliau. Belum lagi materi tersebut lebih rumit dari materi sebelumnya, yaitu Audio Database.
Beliau menjelaskan tujuan membuat audio database agar data berupa audio dapat di ekstrak isinya sehingga kita bisa mengetahui apa informasi yang ada pada audio tersebut. Beliau menganalogikan sebuah rekaman telepon yang direkam  sebagai barang bukti untuk sebuah kasus korupsi yang sempat booming di media masa. Jika terdapat 100 jam rekaman audio yang isinya percakapan yang diduga ada informasi yang dapat dijadikan barang bukti, maka kita akan membutuhkn waktu 100 jam juga untuk mendengarkan seluruh isi rekaman tersebut. Nah lhooo... Anda bisa bayangkan untuk mengetahui apa saja yang dibicarakan dalam rekaman tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama. Tidak adakah cara untuk mengetahui isi percakapan tersebut dalam waktu yang lebih cepat?
Jawabannya ada! Dengan teknologi saat ini, data berupa rekaman percakapan dapat di analisa dan diketahui apa isi pembicaraan yang ada pada data rekaman tersebut, bahkan dalam hitungan menit. Konsep yang beliau jelaskan adalah melakukan scanning terhadap rekaman tersebut dan mengenali dialog yang ada pada rekaman tersebut dan mengubahnya dalam bentuk teks. Teks yang dihasilkan akan disimpan ke dalam bentuk tabel yang memiliki berbagai informasi mengenai data audionya. Sehingga ketika kita ingin mencari kata "saya" pada rekaman tersebut, maka database akan memberikan informasi kapan kata tersebut diucapkan pada rekaman. Selain itu juga dapat mengetahui siapa saja yang berdialog dalam rekaman tersebut. Inilah yang dinamakan Audio Database.
Seperti database pada umumnya, database audio tetap berupa teks yang nantinya dapat dicari dan ditelusuri. Namun yang membedakannya adalah data yang diinputkan berdasarkan hasil scanning dari data rekaman suara berupa percakapan. Dari sini baru ketahuan permasalahan yang muncul, yaitu bagaimana caranya mengubah data rekaman suara menjadi teks yang isinya sesuai dengan isi rekaman suara tersebut.
Teknologi yang bisa menjawabnya adalah speech recognition dan speaker recognition. Speech Recognition adalah teknologi untuk mengenal apa yang diucapkan pada suatu rekaman suara. Sedangkan Speaker Recognition adalah teknologi untuk mengenal siapa yang mengucapkan kata tersebut pada suatu rekaman data.
Hmm...ternyata sampai disini otakku masih bisa berkompromi untuk menangkap materi-materi yang beliau sampaikan. Memang gak terlalu banyak sih, tapi menurutku ini sudah cukup banyak. Tapi anehnya aku tidak menangkap tanda-tanda bahwa kuliah kali ini akan berakhir, justru aku melihat ada satu materi lagi yang ingin dituntaskan oleh beliau. Apa itu? Perasaan aku makin gak enak aja nih, kayaknya materi selanjutnya berhubungan dengan rumus-rumus, atau metode speech recognition dan speaker recognition. Membayangkan hal itu sepertinya otakku kembali mumet. Tanda-tanda mau 'stand-by' sudah mulai terasa di ubun-ubun.
Bagaimana tidak? Beberapa minggu lalu aku sempat mengikuti seminar dan workshop tentang Speech Recognition di Lab Multimedia Labtek V ITB. Walaupun datangnya rada telat, tetapi aku sempat melihat 2 dari 3 pemateri pada hari itu. Alhasil kepalaku malah tambah pusing melihat metode-metode yang mereka presentasikan.
Wuuuhh...jangan-jangan kali ini aku harus berhadapan lagi dengan metode-metode yang sama yang akan dijelaskan beliau sesaat lagi, tapi kali ini dalam kondisi kepala pusing. Hmm...

Apa yang akan anda lakukan, jika...


Apa yang akan anda lakukan jika anda mengetahui bahwa umur anda tinggal 5 hari lagi? Bisa jadi anda akan mulai rajin beribadah, banyak merenung, bersedih atau pun meratapi nasib anda sendiri. Memang sejatinya akan banyak perbedaan untuk menyikapi hal ini. Sebagian ada yang menyikapi dengan rasa sedih, jatuh ke dalam lembah keputus asaan, membiarkan dirinya dihanyutkan oleh perasaan yang tidak ia mengerti, memilih bersikap pasrah terhadap kenyataan yang diterimanya. Ia seperti tidak bersemangat menjalani sisa hidupnya itu yang hanya tinggal beberapa hari lagi. Namun, ada juga diantara mereka yang memilih untuk berfoya-foya dan bersenang-senang untuk beberapa hari sisa hidupnya. Berkunjung ke tempat-tempat tertentu yang selalu ingin dikunjunginya, memakan makanan yang belum pernah dan ingin dimakannya, berbuat sesuka hatinya dan melakukan apapun untuk membuat dirinya bahagia, membuat hatinya merasa puas untuk menikmati dunia di sisa hidupnya.
Ada juga yang memulai mengoreksi diri, melakukan evaluasi terhadap pribadinya, memperbaiki pribadinya menjadi lebih baik, lebih religius. Seolah ia baru saja mendapat hidayah untuk mulai berubah. Ia akan rajin beribadah, mendekatkan diri kepada Tuhannya. Tutur katanya menjadi lebih bijaksana, nasihat-nasihat yang baik akan keluar dari ucapannya. Dan saya rasa akan banyak lagi bentuk sikap yang lain dalam menyikapi hal ini.
Mungkin itulah alasannya mengapa kita tidak pernah diberitahu kapan umur kita akan berhenti. Disana ada 'deadline' yang memaksa kita untuk mengambil langkah cepat. Disana ada tekanan untuk membuat kita memutuskan hendak bersikap apa kita nanti, hendak jadi apa kita besok, hendak melakukan apa kita dalam kurun waktu sisa hidup kita.
Itulah mengapa tidak ada satupun yang bisa mengetahui kapan seseorang akan meninggal dunia.
Jikalau boleh memilih, apa yang akan anda lakukan?

Ini tentang kebaikan (bagian 5)


Bismillaahirrahmaanirrahiim...
Ini tentang kebaikan, tentang ujian kebaikan. Inilah yang akan membedakan antara topeng kebaikan dengan kebaikan yang sesungguhnya. Ini akan menunjukkan kepada kita semua bahwa kebaikan itu bukanlah sesuatu yang bisa dipalsukan, karena itu akan terlihat jelas pada saatnya nanti.
Jujur, untuk pembahasan kali ini saya agak kewalahan ingin memulai menjelaskannya kepada anda. Banyak hal-hal lain yang harus saya pertimbangankan agar bisa membuat kalimat yang pas dan tidak 'mengganggu' orang lain. Saya berpikiran pembahasan kali ini justru akan banyak menyinggung orang lain, karena memang tidak biasa. Saya bahkan telah menghapus tiga kali paragraf yang telah saya tulis sebelum paragraf ini saya tulis. Sebagai permulaan, saya berharap bisa membuat kalimat yang lebih tepat. Insya Allah.
Dari artikel-artikel saya sebelumnya, tergambar bahwa terdapat perjuangan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk mencari kebenaran. Banyak dari mereka yang menemukan pilihan hidup menuju Tuhan nya. Akan tetapi banyak juga di antara mereka yang tersesat dari awal perjuangannya.
Saya banyak membaca "seorang gharim masjid mencuri ini itu", atau "seorang guru ngaji berbuat tidak sepatutnya kepada santrinya", na'udzubillahiminzalik.
Kawan, kita tidak bisa menyangkal hal ini. Memang benar ini adalah aib, tapi sebaiknya ini menjadi bahan renungan kita bersama. Seorang guru ngaji yang notabenenya adalah orang yang paham agama. Sudah seharusnya memberikan contoh yang baik kepada santri-santrinya bagaimana berbuat kebaikan. Bukan menjadi dalang dalam berbuat kejahatan.
Saya berpikir bahwa agamanya tidak mendatangkan manfaat baginya. Atau, ibadahnya tidak berpengaruh apa-apa kepadanya. Bukankah kita tahu bahwa "Shalat itu mencegah kepada kemungkaran" ?
Jika memang shalat itu mencegah kepada kemungkaran, maka bisa dipastikan bahwa guru ngaji itu tidak shalat. Bukankah begitu? Jika ia ternyata rajin shalat, maka bisa dipastikan shalat hanya formalitas kepada Tuhan nya. Atau bisa jadi ia seolah-olah sedang shalat, tetapi sejatinya ia hanya tegak, bungkuk, duduk sambil mulut komat-kamit, gak kurang, gak lebih.
Saya pernah di tag sebuah note dari sahabat saya yang menjelaskan mengapa kita perlu membaca Al Qur'an walaupun kita tidak mengerti artinya atau maknanya. Tulisan tersebut sangat bagus, namun saya khawatir sebagian orang malah menjadikan itu alasan bahwa "ya sudahlah, klo gak ngerti gak apa-apalah, yang penting baca". Saya khawatir sebagian orang akan berhenti memahami maknanya, ya mungkin hanya sebagian orang.
Bahkan saya pernah mendengar seorang ustadz murtad, pindah ke agama lain dengan alasan "saya telah sering berdoa agar diberikan rezeki, namun saya tetap tidak dilimpahkan rejeki, sewaktu saya pindah agama lain, saya langsung banyak rezeki".
Sungguh ironis memang. Jika kita kembali ke pembahasan sebelumnya tentang "Buku Panduan", hal ini tentu bertentangan dengan penjelasan saya tersebut. Bahwa "Buku Panduan" manusia itu menuntun kepada kebaikan.
Sejujurnya kita manusia tidak bisa disamakan dengan produk printer Conan (lihat kembali artikel bagian 3). Buku manual pada printer tersebut memang tepat menuntut kepada arah penggunaan yang baik dan maksimal. Namun berbeda jika sudah dibawa ke manusia. Karena manusia memiliki keinginan, dan "Buku Panduan" itu digunakan oleh manusia itu sendiri, untuk dirinya sendiri.
Dalam perjalanan hidupnya, manusia dibekali "Buku Panduan" memang untuk menuntun kepada manusia yang baik. Akan tetapi, tujuan yang lebih besar lagi adalah, manusia dibekali "Buku Panduan" agar bisa berjalan dengan baik menapaki kehidupan yang penuh dengan permasalahan, sehingga bisa sampai kepada suatu tujuan yang mutlak menjadi tujuannya itu. Tujuan mutlak itu memang telah ditetapkan oleh pencipta manusia itu sendiri. Selama perjalanannya itu manusia akan menemui berbagai rintangan yang harus diselesaikan dan disikapi dengan cara-cara tertentu. Dan solusi pemecahan masalah tersebut telah ada di "Buku Panduan" manusia itu. Manusia hanya perlu membaca dan memahami "Buku Panduan" tersebut.
Sekali lagi perlu ditekankan bahwa dalam beragama harus memiliki "Konsep" dan "Implementasi". Kita tentu tahu bahwa implementasi tanpa konsep sama dengan ngawur. Begitu juga konsep tanpa implementasi sama dengan dongeng.
Itulah mungkin yang dialami oleh seorang guru ngaji yang mampu berbuat tidak patut kepada para santrinya. Dia sangat tahu konsep agamanya, namun pada penerapannya (implementasi) tidak dilakukan dengan cara yang benar. Konsep yang ia ketahui tidak ia pahami, tidak dihayati dalam jiwanya. Dan mungkin itu juga yang dialami oleh ustadz yang murtadz. Wallahu'alam. Saya juga gk bisa memvonis terhadap hal ini.
Anggap saja hal itu benar. Lalu apa?
Dari sini sebagian orang akan berpikir bagaimana caranya memahami konsep dan implementasi dengan benar. Orang-orang akan sibuk untuk mencari langkah-langkah yang benar dari berbagai sumber. Mencoba mengubah perilaku dan sifat-sifat mereka, mengubah cara bicara atau apalah namanya untuk dapat memahami konsep yang benar dan mengimplementasikannya dengan tepat. Banyak dari mereka mengikuti seminar-seminar, pengajian-pengajian untuk mencari hal itu.
Saya menilai ini merupakan sesuatu yang terburu-buru. Jika saya ada disana, saya akan menyuruh anda untuk berhentilah sejenak. Berhenti.
Ada hal kecil yang sering kita lupakan dalam teori "konsep" dan "implementasi". Seperti sebuah mata kuliah pemrograman komputer. Dalam mata kuliah tersebut setiap mahasiswa diajarkan konsep dan diberikan praktek (implementasi). Mahasiswa dituntut untuk memahami konsep dengan benar, selanjutnya mempraktekkan konsep-konsep tersebut dalam bentuk nyata. Tujuan mempraktekkan itu agar mahasiswa mengalami langsung hasil dari konsep yang dipelajarinya pada mata kuliah tersebut.
Apa yang saya ceritakan pada paragraf di atas merupakan kondisi ideal yang seharusnya terjadi. Tapi apa yang terjadi sebeanarnya? Tetap saja sebagian besar mahasiswa tidak mau mendengarkan konsep yang dijelaskan oleh dosennya, sebagai akibatnya adalah ia tidak mengetahui seperti apa mempraktekkannya. Atau, sebagian mahasiswa mulai berpikir "jangan terlalu serius belajarnya, toh besok sewaktu bekerja nggak akan ditanyakan kok". Atau "sudahlah, nggak perlu repot-repot belajarnya, kita tinggal nyontek saja, yang penting nilainya". Para mahasiswa sibuk menganggap remeh, dan mempertanyakan kepada orang lain "buat apa serius mempelajari ini itu? Toh ujung-ujungnya adalah nilai". Yang ada dalam pemikiran para mahasiswa tersebut hanya pertanyaan seperti itu saja. Mereka mempertanyakan kepada orang-orang sekitar mereka, bahkan ke dosen mereka, "mengapa kita harus belajar itu?".
Disanalah letak kekurangan yang saya maksud. Mengapa mahasiswa tidak bertanya saja kepada diri mereka sendiri, "untuk apa saya belajar ini?", atau "apa yang mau saya ambil dari pelajaran ini?". Apa yang mereka inginkan? Ilmukah, atau nilaikah? Dalam hal ini tentu mahasiswa akan memilih kedua-duanya, karena sebaik-baiknya dosen yang memberi nilai, tetap saja hasil penilaiannya tidak pernah memuaskan semua mahasiswanya. Benarkah?
Tapi dalam kehidupan ini, yang menilai kita bukanlah dosen yang notabenenya manusia biasa. Yang menilai kita adalah Tuhan. Yang hasil penilaiannya sangat akurat, dan sudah pasti akan memuaskan setiap manusia. Nah, mengapa dalam beragama, sebelum memahami konsep dan implementasi, manusia tidak bertanya kepada dirinya sendiri untuk apa dia beragama, untuk Tuhannya ataukan untuk dirinya?
Kawan, itulah mengapa saya menyuruh anda untuk berhenti sejenak. Coba renungkan untuk apa anda beragama. Jika anda hanya ingin terlihat rajin beribadah, dengan pakaian gamis yang serba putih, hafal doa-doa dan ayat-ayat, dan sibuk tunggak-tunggik di rumah ibadah agar semua orang bisa melihat anda, maka cobalah berhenti sejenak. Jangan terburu-buru, lalu tanyakan diri anda.
Maaf, atas segala kekurangan. Hanya kepada Allah lah saya berserah diri. Berharap kesalahan-kesalahan saya dijadikan pelajaran bagi orang lain. 

Behind the Scene ITK


Sudah lama memang niat untuk menulis ingin dijalankan. Banyak hal yang ingin saya tulis dan dibagikan ke orang lain. Tentang pemikiran-pemikiran saya, tentang pengamatan sehari-hari di lingkungan saya, tentang perilaku-perilaku orang-orang yang ada disekitar saya. Bukan berarti saya tidak pernah menilai diri sendiri loh, karena setiap hal yang saya amati selalu saya jadikan contoh untuk diri sendiri. Setiap orang berhak untuk menjadi lebih baik toh? Ya tergantung orangnya sendiri apakah dia mau menjadi yang lebih baik, atau dia tetap bersikeras menjadi dirinya sendiri, yang dia sendiri gak tau apakah dirinya sendiri itu telah baik atau gak.
Hufff... Terlepas dari itu semua, banyak hal yang menjadi prioritas utama yang harus dikerjakan terlebih dahulu sebelum saya bisa menyempatkan diri untuk menulis apa yang sudah lama 'berkarak' di benak saya. Ibarat sebuah wadah air yang diisi penuh hingga tidak muat lagi menampung dan harus dikeluarkan. Namun lagi-lagi prioritas lainlah yang menjadi lawan terberatnya yang mampu memperbesar kapasitas wadah. Haha... Kesannya memang seperti mengurungkan niat untuk sementara waktu.
Saya gak tau sebenarnya hobi saya tuh ada dimana? Mengambil kuliah jurusan Informatika dengan alasan tertarik dan sangat suka. Namun anehnya, hampir sebagian besar 'hasil renungan' saya lebih kepada kepribadian dan kehidupan.
Berawal dari koleksi artikel-artikel motivasi yang saya dapat dari abang saya yang saya gak tau ntah dari mana dia mendapatkannya. Awalnya hanya membaca satu artikel, eh... Kok bagus yah. Coba baca artikel lain lagi, eeehh... Bagus juga nieh... Truuuss... Truuuss.....
Dari sana muncullah niat untuk membagikan tulisan artikel tersebut ke orang lain via website perdana saya yang saya buat sewaktu jaman SMA dulu (tapi sekarang udah saya deface). Berlanjut ke Friendster. Dan akhirnya nangkring di Facebook.
Jaman dulu saya masih kurang ngeh...untuk membuat sebuah blog, walaupun sudah tahu blog itu apa. Terkendala dengan akses internet sih. Karena beberapa tahun yang lalu masih termasuk kawula kere...(sekarang kayaknya gk berubah tuh, but Alhamdulillah) sehinnga kadang-kadang aja ke warnet. Selebihnya konek via hape (facebookan doank).
Naah, akhir-akhir ini aja baru punya sedikit waktu untuk pelan-pelan menulis. Mulailah berpikir topik apa yang akan ditulis, trus harus mulai dari mana tulisan tersebut. Disusun-susun, dipikir-pikir, dibayang-bayangkan dan diingat-ingat maka akhirnya muncullah sebuah topik tentang 'Perjalanan Hidup Menuju Tuhan'. Inginnya sih menyampaikan bahwa terdapat banyak perbedaan-perbedaan paradigma (sudut pandang) tentang baik dan buruk oleh setiap manusia. Berangkat dari sebuah iklan rokok "Yang muda yang gak bisa dipercaya", maka mulailah tercipta sebuah judul berantai yaitu "Ini Tentang Kebaikan (ITK)".
Awalnya memang tidak berantai, tetapi saya perlu pelan-pelan menyampaikannya, sehingga saya mulai membagi-bagi menjadi beberapa sub topik. Ada sedikit ketakutan dalam diri saya sendiri untuk menyampaikan beberapa hal dari artikel-artikel yang saya tulis. Salah satu hal yang paling saya takuti adalah nantinya akan ada pertentangan dari sebagian orang yang belum mengerti benar tentang apa yang saya tulis. Sehingga bisa jadi pertentangan yang ia sampaikan sejatinya sejalan dengan maksud yang saya tuliskan, namun dengan kurangnya pemahaman tentang maksud yang ada disana, menjadikan seolah-olah artikel yang saya tulis sangat bertentangan.
Untuk itu saya sangat berharap untuk bisa memahami setiap artikel yang anda baca (bukan hanya artikel saya). Pahami maksudnya, dan berikan kritik dan saran anda ke saya atau ke siapa saja yang artikelnya anda baca.
Akhirnya saya sangat berharap adanya saling tukar ide, pikiran, pandangan dan pemahaman melalui kritik dan saran-saran yang saya harapkan dapat mengoreksi pemikiran dan pemahaman saya yang saya tuangkan melalui artikel-artikel di blog ini. 

17 November 2011

Ini tentang kebaikan (bagian 4)


Ini tentang kebaikan, tentang topeng kebaikan. Ini menjelaskan topeng kebaikan yang mengaku kebaikan. Ini menjelaskan bahwa sesungguhnya kita bisa tahu kebaikan itu topeng atau bukan.
sumber : servus-sanctus.blogspot.com
Mungkin dalam perjalanan hidup anda tentu banyak berjumpa dengan berbagai orang dengan berbagai karakter. Gak perlu lah disebutkan, karena memang bermacam-macam. Begitu juga dengan saya, pernah berjumpa dengan beberapa orang yang baik tutur katanya, sopan cara bicaranya, agamanya bagus (dalam artian beribadah, hafalan, dan bacaan) dan dia juga mengajak kepada kebaikan. Akan tetapi, yang mengherankan adalah beberapa orang seperti tidak menyukainya.
Pembaca : Lha, wajar toh mas? Gk semua orang disukai oleh orang lain.
Waah, sabar dulu. Kan belum saya jelaskan lebih detail.
Baiklah, mari kita lanjutkan.
Memang benar, tidak ada orang di dunia ini yang bener-bener disukai oleh semua orang. Akan tetapi, saya rasa anda juga pernah merasakan ada seseorang yang baik, tetapi orang-orang di lingkungannya justru lebih banyak tidak menyukainya.
Ini memang menjadi dilema yang susah untuk dijawab. Di satu sisi kebaikan itu yang harus kita cari, kita amalkan dan kita sampaikan kepada orang lain. Di sisi lain justru kebanyakan orang tidak suka dengan orang yang baik tersebut. Mereka - orang yang tidak menyukai - tahu jika hal itu tidak baik, akan tetapi mereka lebih memilih orang lain yang untuk dijadikan panutan, bukan orang yang baik tersebut. Tanya kenapa???
Akhir-akhir ini saya sering dengar keluh orang seperti ini, "Orang itu tau agama, tapi heran, ndak ada yang suka dengan orang itu".
Atau "Orang itu taat beribadah, tetapi orang-orang gak ada yang suka dengannya", dan sebagainya.
Ini memang sangat mengherankan, bertolak belakang dengan hal yang seharusnya akan terjadi. Sangat tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Lalu adakah kesalahan yang terjadi, atau memang itukah hasil yang didapat bagi mereka yang mencari kebaikan?
Jika itu adalah hasil dari mencari kebaikan, maka lebih baik tidak perlu berbuat baik atau pun mencari kebaikan. Toh hasil yang didapat gak menjadikan orang tersebut mendapatkan hasil yang semestinya. Ataukah memang teori-teori berbuat kebaikan itu hanya sekedar sugesti yang tersusun dari rangkaian kata-kata indah yang menggunggah sanubari dan menenangkan hati tanpa ada pembuktian yang baik? Atau, apakah ada yang salah dengan orang yang menjalankan konsep teori kebaikan?
Jika anda masih bingung, saya akan mengajak anda untuk mengingat kembali tentang agama anda masing-masing. Jika saya tidak salah ingat, setiap agama selalu ada kitab suci dan orang yang dijadikan contoh berasal dari manusia atau dianalogikan mirip manusia. Misalkan Islam, ada Al Qur'an sebagai kitab sucinya, dan Nabi Muhammad SAW sebagai panutannya. Begitu juga Kristen, ada Injil sebagai kitab suci dan Tuhan Yesus yang dijadikan sebagai sesembahannya. Begitu seterusnya dengan agama lainnya.
Yang ingin saya sampaikan bukanlah ajaran masing-masing agama tersebut. Akan tetapi, mengapa ada kitab sucinya dan ada suri tauladan yang berasal dari manusia atau yang dianalogikan mirip manusia?
Singkatnya, cukup 2 kata, "Teori" dan "Praktek", atau "Konsep" dan "Implementasi". Kitab suci yang diberikan itu dianalogikan sebagai "Konsep" Kebaikan yang diturunkan Tuhan untuk pedoman hambaNya. Sedangkan suri tauladan yang diutusNya merupakan bentuk "Implementasi" dari "Konsep" yang telah diberikan.
Lalu, mengapa harus ada kedua-duanya? Mengapa tidak salah satu saja? Mengapa tidak konsep saja? Atau implementasi saja?
Pembaca yang budiman, anda tentu tidak berharap saya akan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan di atas kan? Saya berharap kita bisa sedikit meluangkan waktu untuk berpikir serius tentang hal ini. Karena selama ini saya merasa sebagaian dari kita (dengan polos dan lugu atau mereka benar-benar tidak tahu) mengikuti konsep yang benar dengan praktek yang salah. Allahu'alam bisshawab.
Hanya kepada Allah lah aku memohon ampunan atas kesalahan dan kekurangan yang pernah terjadi.